Ukur saja tapal batas dendam mereka.
Terselip dalam gelondongan bola debu yang kian besar bergulir.
Melindas segala perona biru.
Menyesakan para petani yg menyungkur pada dewi sri.
Dalam tapak kaki rancu yang di gores oleh kaki kaki reot.
Makin reot saja bersama nafasnya yang kian terseok.
Di gantungnya hidup pada sebatang pohon kakao.
Pohon kakao tumbang, hidup selesai.
terbit tenggelam mentari mengawal laut..
Laut pun menghangat.
Terbit tenggelam mentari menggiring laut.
Laut tersenyum awan terarak.
Terbit tenggelam mentari berkawan rembulan.
Mengarak awan tercurah hujan.
Merekah kembang edelweis di gunung ural.
Menapak senyum pada lembayung langit.
Mengucapkan perpisahan pada sang surya di ujung senja.
Untuk menapak cahaya di bumi yang lain.
catatan kaki : puisi ini terinspirasi dari semua guru-guruku, love you !