terbit tenggelam mentari mengawal laut..
Laut pun menghangat.
Terbit tenggelam mentari menggiring laut.
Laut tersenyum awan terarak.
Terbit tenggelam mentari berkawan rembulan.
Mengarak awan tercurah hujan.
Merekah kembang edelweis di gunung ural.
Menapak senyum pada lembayung langit.
Mengucapkan perpisahan pada sang surya di ujung senja.
Untuk menapak cahaya di bumi yang lain.
catatan kaki : puisi ini terinspirasi dari semua guru-guruku, love you !
Senja dengan setia menemani kita berabad abad. Menjadi latar belakang layar untuk terkembangnya cerita tentang oranye pagi. Pagi yang birunya penuh harapan dan membias pada putih untuk kemenangan, lalu meleburkan diri bersama kita untuk menikmati senja sore ini..
Saat oranye pagi, berulang kali kamu ucapkan akan memeluku sampai saatnya nibiru menabrakan diri ke bumi, merubah kita menjadi puing puing bagian semesta.
Lalu dengan teratur berabad kemudian menjadikan aku dan kamu sebagai Mars dan Venus yang selalu berevolusi beriringan.
Lalu dengan teratur bermiliar abad kemudian kita saling menatap hingga kilau cahaya saling menyeruak dari poros jasad ini. Dengan sempurna membuktikan kita adalah kejora..