Showing posts with label dinara. Show all posts
Showing posts with label dinara. Show all posts

Thursday, May 30, 2019

menjadi laki-laki part 2

Dinara part 2


Namaku Dinara Putri, di jalanan kawan-kawanku memanggilku dengan sebutan Dono. menurut mereka aku bawel dan lucu. Iiih masa aku di bilang lucu padahal wajahku seram bila aku sedang bercermin..
Hidupku di jalanan seumpama buku tulis, ialah buku tulis yang basah dan kosong, rawan sekali untuk robek dan hancur, sulit sekali untuk di tuliskan pelajaran berguna, tapi masih ada harapan tentunya, tulis saja dengan pelan-pelan dan dengan kualitas pena yang baik. Tapi sekali saja aku terjatuh ke dalam kubangan, maka hidupku mungkin tamat dan pelarianku dari ibu ku akan sia-sia.
Dan terminal bis kota Buiten ini ibarat baki dagangan para pedagang di pasar, ada apel merah yang mengkilat di poles lilin agar laku menarik pembeli, ada jahe dan kunyit yang kotor tapi berguna untuk banyak hal, dan ada juga sayur-sayuran busuk yang sengaja di buang karena tak kunjung terjual. Semuanya memiliki peranan dan makna masing-masing.
Hari ini hari kamis, jadwalku bekerja di sebuah warteg yang letaknya di dalam terminal, warteg ukuran 4 x 4 m bercat kuning cerah dengan lapisan jelaga hitam di bagian luar nya. Aku sudah bekerja di sini kurang lebih 4 bulan, pemiliknya bernama bu Mur, perempuan paruh baya bertubuh tambun yang selalu setia dengan kunciran cendol warna ungu di rambutnya. Pekerjaan ku di sini hanya seminggu dua kali, tugasku menyiangi sayuran, cabai, bawang-bawangan dan lain-lain untuk persediaan bahan masakan sehari-hari. aku menata nya di dua lemari es di area dapur. Aku teringat awal pertama perjumpaanku dengan bu Mur. Tepat saat pertama kali datang ke terminal ini, wajahnya di pasang masam dan ketus.
“makan sama apa..” tanya bu Mur sesaat aku baru saja duduk di bangku panjang di depan etalase makanan saat itu.
“kalau sama ikan bandeng berapa bu...”
“13”
--aku mikir-mikir—
“Kalau sama telor balado dan sayur berapa bu...”
“12”
--aku mikir-mikir—
“maaf bu, nasi sama sayur tumis aja bu, kasih sambel ya..”
Bu mur hanya geleng-geleng kepala lalu tak lama menyodorkanku sepiring nasi dan sayur serta sejumput ikan teri.
“bu maaf aku gak pakai ikan teri..” tanyaku ragu
“iya gpp sudah makan saja..” jawab bu Mur masih ketus.
Aku pun langsung menikmati makanan karena badanku sudah sangat gemetar menahan rasa lapar sedari tadi, sambil makan ku perhatikan keadaan sekeliling warteg dan sekeliling terminal, warteg bu mur depan nya dari kaca, jadi aku bisa dengan jelas memperhatikan orang yang lalu-lalang.
Bangku yang ku duduki berbentuk hurup L mengelilingi etalase makanan, saat itu aku bersamaan dengan dua orang bapak-bapak sepertinya supir angkutan umum.
Sambil makan pikiranku melayang, hari menjelang magrib, mau tidur dimana nanti.
Setelah selesai makan, aku menanyakan berapa uang yang harus ku bayar..
“5,000” jawab bu Mur singkat.
“bu sekitar sini ada pom bensin..” tanyaku pada bu Mur saat itu.
“ada,  sekitar 500 meter dari sebrang jalan..” jawab bu mur.
Aku menghela nafas lega, sepertinya pom bensin sementara ini adalah tempat terbaik untuk sekedar rebahan, tepatnya di area mushola pom bensin. Dan ketika malam sudah larut, aku berjalan kaki menuju mushola pom bensin. Sesampai di pom bensin ada seorang bapak berjaga di depan toilet yang posisi nya berhadapan dengan mushola. Tanpa basa-basi aku meminta izin untuk istirahat di dalam mushola. Lalu aku berikan selembar 2 ribu rupiah untuk mandi di toilet umum tersebut. Tanpa baju ganti. Selesai mandi aku duduk-duduk di teras mushola bersama si bapak.
“kamu mau kemana memangnya dek?” tanya si bapak mencoba ngajak ngobrol.
“ke rumah saudara pak...” jawabku bohong.
“oh gitu, bagus kalau gitu, soalnya mushola ini sebenarnya tidak boleh di jadikan tempat menginap, untungnya si bos lagi liburan ke luar negri..” si bapak menerangkan..
“oh iya-iya..” aku mengangguk padahal hati bingung harus tidur dimana besok..
Jam dinding di mushola menunjukan waktu pukul 23.41. aku mencoba selonjoran di dalam mushola, dan tidur dalam posisi duduk supaya tetap siaga. Dan benar saja aku harus siaga sepanjang malam, bukan karena maling atau penjahat. Tapi karena nyamuk yang melakukan serangan bertubi-tubi. Malam itu cuaca sangat pengap, udara hawa nya panas, dalam kegerahan nyamuk-nyamuk itu seolah-olah tidak mau memberi toleransi barang sedikit. Sungguh malam yang luar biasa. Dalam kondisi setengah mengantuk, dan habis-habisan bentol di gigit nyamuk pikiranku terus berotasi, berpikir bagaimana agar aku bisa bertahan hidup dalam pelarian ini. Lalu ku teringat bu Mur, selama ku lihat di warteg tadi tidak ada satu pun orang yang membantu nya, akhirnya ku putuskan besok untuk menawarkan diri bekerja di warteg bu Mur..

cerita selanjutnya : part 3



Wednesday, May 29, 2019

CERBUNG : Menjadi Laki - laki (part 1)

Dinara Part 1

by : muse.vin

Di buang ibu, tak di perdulikan ayah. Sudah cukup kah kata-kata itu menggambarkan rasa kesepian seorang manusia...
Ada ungkapan mengatakan, kita tak akan pernah benar-benar empati bila belum merasakan hal yang sama...
----
Hari ini terminal bus kota Buiten terik sekali, udara panas bercampur asap knalpot bis dan angkutan umum yang sedang ngetem, belum lagi bau pesing di setiap pojok tiang menyeruak memperburuk aroma yang mau tidak mau harus ku hirup.
Keringat asin mengucur di seluruh tubuhku yang kusam dan coklat karena terjemur matahari setiap hari, rambutku yang panjang tak lebih dari batas kuping terasa amat lengket. Dari kejauhan pelan-pelan sebuah bus patas AC bersiap memasuki terminal, aku bergegas mengangkat daganganku di bahu bersiap-siap untuk untuk masuk ke bus tersebut.. mau numpang ngadem, hehe.. sekaligus menjajakan tissu dan air mineral...
"Tissueeei...tissueei..tisssueii.. yang aos.. yang aos... yang aoss.." ucapku cempreng dan di buat lebih cempreng agar menarik perhatian pembeli.
Di bangku ke dua sebrang pintu masuk bus, duduk seorang gadis, sepertinya se usia denganku ~15 tahun, bersama ayahnya.. si gadis cemberut dan ayahnya yang juga cemberut..
"Kamu harus sekolah di SMA itu Dina, ayah susah payah membujuk kepala sekolah agar kamu bisa masuk sekolah itu, jangan bantah ayah terus, hari ini kamu segera daftar ulang.. kalo kamu terus bantah silahkan kamu jadi anak jalanan saja ... !!" Teriak si ayah yang kadung emosi setelah aku melewatinya beberapa bangku..
Anak Jalanan
Seandainya bisa memilih seperti gadis itu, tentu aku tidak ingin menjadi anak jalanan. Sayangnya turun ke jalanan bagiku adalah sebuah keharusan daripada kelaparan karena tidak ada uang untuk membeli sebungkus nasi.
Aku bergegas turun dari bus AC itu, mencoba melupakan ucapan bapak tadi. Ucapan itu memantik rasa marah akan ketidakberdayaan aku menggapai bangku sekolah, entah aku harus marah kepada siapa.. yasudahlah lagipula aku sudah cukup ngadem, ucapku mencoba acuh.
Aku seorang gadis perempuan yang lahir dari rahim seorang pelayan cafe remang-remang di daerah kumuh. Entah aku harus bersyukur atau mengutuki ibuku karena tidak berhasil menggugurkan aku ketika masih dalam kandungan. Itu hal yang sering ku dengar dari rekan seprofesinya. Aku tumbuh besar di rumah petak yang di sediakan oleh pemilik cafe tersebut. Kata mereka ayahku adalah salah satu pelanggan cafe ini, tapi entah yang mana. Saat usia ku menginjak 14 tahun, ibu menyuruhku mengikuti jejak nya sebagai pelayan di cafe ini. Katanya harga perawan bisa di bayar mahal.. aku selalu bergidik bila ingat itu. Seorang ibu yang kata banyak orang akan melindungi anaknya mati-matian, malah akan menjualku..
Tumbuh di lembah hitam ternyata tak cukup kuat membuatku hitam, mungkin dampak dari hobiku membaca majalah loak dari pengepul barang bekas tak jauh dari cafe. Aku percaya Tuhan membimbingku ke jalan yang lebih baik bila aku memiliki kesungguhan. Diam-diam aku rencanakan pelarian diri dari ibuku sendiri.
"mak si dewi ngajak aku rebonding rambut di kampung sebelah, mamak ada uang ga 200 ribu..." bujuk ku pada ibu. Bila untuk penampilan ibuku tanpa basa-basi langsung mengiyakan..
"iya besok pagi ya mak kasih.." jawab ibuku sambil memoleskan gincu merah bersiap untuk "berkerja" malam ini.
Esoknya ibuku memberikan dua lembar pecahan seratus ribu, aku pamit untuk pergi ke salon.. iya benar aku ke salon, Tapi tidak untuk rebonding,tapi ku pangkas bondol rambutku.. setelahnya aku pergi ke terminal bis antar kota. Aku bergaya seperti anak pria, pikirku simpel "agar tidak jadi korban pemerkosaan karena terlihat perempuan". Aku melarikan diri, entah bis jurusan apa yang ku tumpangi, membawaku jauh sekali..
Hingga pas tiba di terminal akhir, aku terpaksa turun, uangku tinggal seratus ribu rupiah. Perutku lapar..
Dan ternyata rasa lapar yang membuatku terus belajar bertahan hidup di jalanan hingga hari ini..
~Bersambung
#Baladakaummarjinal


cerita selanjutnya : part 2