Namaku Dinara Putri, di jalanan kawan-kawanku
memanggilku dengan sebutan Dono. menurut mereka aku bawel dan lucu. Iiih masa
aku di bilang lucu padahal wajahku seram bila aku sedang bercermin..
Hidupku di jalanan seumpama buku tulis, ialah buku
tulis yang basah dan kosong, rawan sekali untuk robek dan hancur, sulit sekali
untuk di tuliskan pelajaran berguna, tapi masih ada harapan tentunya, tulis
saja dengan pelan-pelan dan dengan kualitas pena yang baik. Tapi sekali saja
aku terjatuh ke dalam kubangan, maka hidupku mungkin tamat dan pelarianku dari
ibu ku akan sia-sia.
Dan terminal bis kota Buiten ini ibarat baki
dagangan para pedagang di pasar, ada apel merah yang mengkilat di poles lilin
agar laku menarik pembeli, ada jahe dan kunyit yang kotor tapi berguna untuk
banyak hal, dan ada juga sayur-sayuran busuk yang sengaja di buang karena tak
kunjung terjual. Semuanya memiliki peranan dan makna masing-masing.
Hari ini hari kamis, jadwalku bekerja di sebuah
warteg yang letaknya di dalam terminal, warteg ukuran 4 x 4 m bercat kuning
cerah dengan lapisan jelaga hitam di bagian luar nya. Aku sudah bekerja di sini
kurang lebih 4 bulan, pemiliknya bernama bu Mur, perempuan paruh baya bertubuh
tambun yang selalu setia dengan kunciran cendol warna ungu di rambutnya. Pekerjaan
ku di sini hanya seminggu dua kali, tugasku menyiangi sayuran, cabai,
bawang-bawangan dan lain-lain untuk persediaan bahan masakan sehari-hari. aku
menata nya di dua lemari es di area dapur. Aku teringat awal pertama
perjumpaanku dengan bu Mur. Tepat saat pertama kali datang ke terminal ini,
wajahnya di pasang masam dan ketus.
“makan sama apa..” tanya bu Mur sesaat aku baru
saja duduk di bangku panjang di depan etalase makanan saat itu.
“kalau sama ikan bandeng berapa bu...”
“13”
--aku mikir-mikir—
“Kalau sama telor balado dan sayur berapa bu...”
“12”
--aku mikir-mikir—
“maaf bu, nasi sama sayur tumis aja bu, kasih
sambel ya..”
Bu mur hanya geleng-geleng kepala lalu tak lama
menyodorkanku sepiring nasi dan sayur serta sejumput ikan teri.
“bu maaf aku gak pakai ikan teri..” tanyaku ragu
“iya gpp sudah makan saja..” jawab bu Mur masih ketus.
Aku pun langsung menikmati makanan karena badanku
sudah sangat gemetar menahan rasa lapar sedari tadi, sambil makan ku perhatikan
keadaan sekeliling warteg dan sekeliling terminal, warteg bu mur depan nya dari
kaca, jadi aku bisa dengan jelas memperhatikan orang yang lalu-lalang.
Bangku yang ku duduki berbentuk hurup L
mengelilingi etalase makanan, saat itu aku bersamaan dengan dua orang
bapak-bapak sepertinya supir angkutan umum.
Sambil makan pikiranku melayang, hari menjelang
magrib, mau tidur dimana nanti.
Setelah selesai makan, aku menanyakan berapa uang
yang harus ku bayar..
“5,000” jawab bu Mur singkat.
“bu sekitar sini ada pom bensin..” tanyaku pada bu
Mur saat itu.
“ada,
sekitar 500 meter dari sebrang jalan..” jawab bu mur.
Aku menghela nafas lega, sepertinya pom bensin
sementara ini adalah tempat terbaik untuk sekedar rebahan, tepatnya di area
mushola pom bensin. Dan ketika malam sudah larut, aku berjalan kaki menuju
mushola pom bensin. Sesampai di pom bensin ada seorang bapak berjaga di depan
toilet yang posisi nya berhadapan dengan mushola. Tanpa basa-basi aku meminta
izin untuk istirahat di dalam mushola. Lalu aku berikan selembar 2 ribu rupiah
untuk mandi di toilet umum tersebut. Tanpa baju ganti. Selesai mandi aku
duduk-duduk di teras mushola bersama si bapak.
“kamu mau kemana memangnya dek?” tanya si bapak
mencoba ngajak ngobrol.
“ke rumah saudara pak...” jawabku bohong.
“oh gitu, bagus kalau gitu, soalnya mushola ini
sebenarnya tidak boleh di jadikan tempat menginap, untungnya si bos lagi
liburan ke luar negri..” si bapak menerangkan..
“oh iya-iya..” aku mengangguk padahal hati bingung
harus tidur dimana besok..
Jam dinding di mushola menunjukan waktu pukul
23.41. aku mencoba selonjoran di dalam mushola, dan tidur dalam posisi duduk
supaya tetap siaga. Dan benar saja aku harus siaga sepanjang malam, bukan
karena maling atau penjahat. Tapi karena nyamuk yang melakukan serangan
bertubi-tubi. Malam itu cuaca sangat pengap, udara hawa nya panas, dalam
kegerahan nyamuk-nyamuk itu seolah-olah tidak mau memberi toleransi barang
sedikit. Sungguh malam yang luar biasa. Dalam kondisi setengah mengantuk, dan
habis-habisan bentol di gigit nyamuk pikiranku terus berotasi, berpikir
bagaimana agar aku bisa bertahan hidup dalam pelarian ini. Lalu ku teringat bu
Mur, selama ku lihat di warteg tadi tidak ada satu pun orang yang membantu nya,
akhirnya ku putuskan besok untuk menawarkan diri bekerja di warteg bu Mur..
cerita selanjutnya : part 3
cerita selanjutnya : part 3